Kejayaan yang Memudar
Judul buku: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipanta
Isi buku: 646 halaman
Tahun terbit: 2011, cetakan kesembilan
“apa yang tidak busuk dalam kolonial? Semua ikan besar busuk mengelompok menjadi pelaksana kekuasaan. Semua ikan kecil busuk bertebaran dalam kehidupan dan ikut membusukinya”
Jutaan semut mati setiap hari terinjak manusia, ribuam serangga mati diberantas manusia di ladang-ladang pertanian. Jiwa-jiwa itu punah dan yang tersisa berbiak kembalidalam laju yang sangat derasnya, juga manusia berjatuhan di medan perang sama dengan semut dan serangga.
Tak ada manusia yang berterima dan diam atas penjajahan, kekuatan kolonial masih mencemgkeram Hindia, tapi kesadaran sudah muncul dalam diri para pribumi meski tidak semuanya. Semua itu dipelopori oleh satu tokoh yang sama, guru para pribumi, Minke.
Akan tetapi pemerintah tidak bisa tinggal diam, Minke seketika berhenti dan meninggalkan tanah Batavia tanpa diperbolehkan berkomunikasi dengan orang-orang medan maupun SDI selama lima tahun.
Penelitian arsip-arsip Minke, Marco, Sri Soendari yang mereka semua merupakanpara aktivis pergerakan masa itu oleh jenderal Pangemann dengan dua huruf n. Minke ditahan dalam operasi pengarsipan yang rapi atas tindakannya. Pengarsipan merupakan mata-mata radar Hindia yang ada di manapun untuk merekam segala aktivitas pergerakan.
Kolonial tetap saja menjadi makhluk yang penuh kebusukan dalam menjalani kekuasaan, setiap tokoh yang dianggap berbahaya akan segera disingkirkan dan diasingkan. Waktu terus berjalan hingga akhirnya Minke dilepas namun ia tak lagi dikenal orang sebagaimana sebelumnya, ia tak lagi dianggap pahlawan bagi bangsanya dan ia begitu saja dilupakan. Di sisi lain Pangemann dengan dua huruf n merasa menjadi manusi yang tidak berguna dan tetap menjadi budak kolonial. Namun ia tetap menganggap Minke sebagai guru terhormat hingga akhir hayatnya.
Seri terakhir dari tertralogi Buru, Pram membuat cerita berbeda dari yang sebelumnya. Pusat cerita tidak lagi berpusat pada Minke sebgai tokoh utama melainkan beralih ke Jenderal Pangemann dengan dua huruf n dengan segala aktivitas pengarsipan atau dikenal dengan rumah kaca. Konflik yang semakin memuncak dengan pembuangan tokoh-tokoh. Latar tak sebagian besar berada di tempat pengasingan Minke, Buru. Dalam novel ini Pram seolah mengisahkan dirinya sendiri yang mana ketika dalam pembuangan masih saja ia menulis.
Dalam buku ini pembacaakan merasa sakit hati atas tindakan dan peristiwa yang ada. Melalui buku ini merupakan peralihan kisah simbolisasi dari usaha Hindia melumpuhkan sepak terjang Minke dan menjadi representasi pembangkangan anak terpelajar pribumi.
Novel sejarah yang layak dibaca untuk mengetahui bagaimana kolonial dan bangsa kita saat itu, bagaimana perjuangan jejak langkah dari anak bangsa ini untuk bertahan dan melwan kolonial.
Bangkalan. 01 November 2016
Komentar
Posting Komentar