ESAI LPDP
Komitmen Kembali ke Indonesia, Rencana Pasca Studi, dan Rencana Kontribusi di Indonesia
Saya berasal dari Tuban, Jawa Timur. Tepatnya desa Dasin kecamatan Tambakboyo. Tumbuh besar dan berkembang dengan cinta kasih yang besar dari orang tua saya. Menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki kesempatan untuk andil dengan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya adalah nilai yang mereka ajarkan kepada anak-anaknya, termasuk kepada saya. Bagaimanapun caranya dan seperti apapun kondisinya. Walaupun tanpa merendahkan sama sekali, kesadaran akan pentingnya pendidikan di tempat saya masih sangat minim. Terlebih kepada perempuan yang masih terjerat dogma kuno bahwa perempuan tugasnya hanya 3M; memasak, melahirkan, merias. Tak heran memang jika menelisik data dari Badan Pusat Statistik pada Juni 2022 bahwa; dari 275,36 juta hanya 6,41% penduduk yang sudah mengenyam pendidikan perguruan tinggi.
Berangkat dari nilai yang diajarkan orang tua saya tersebut, dewasa ini saya menafsirkan bahwa ada semangat dari mereka untuk melahirkan generasi dan peradaban yang semakin unggul. Sudah menjadi kepastian, nilai itu tidak akan pernah saya biarkan menjadi nilai yang pasif semata. Walaupun memang nilai itu berangkat dari ironi saat mereka tidak mampu mewujudkan untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun payahnya mereka mengusahakan, realitas belum mengizinkan untuk mereka bisa menikmati pendidikan yang layak.
Kendati demikian, langkah kecil telah mereka mulai dengan terbiasa memberikan buku bacaan kepada saya. Baik itu berupa majalah anak atau buku-buku cerita bergambar. Berangkat dari kebiasaan itu, lambat laun membaca menjadi sebuah kegemaran. Semakin lama semakin tertarik karena telah terbiasa, kemudian melahirkan motivasi dengan tekad kuat untuk terus berfokus dalam bidang ini. Memang, tidak pernah terbesit bisa sampai titik ini, tapi saya bahagia dengan nilai yang mengantarkan saya untuk bisa menikmati berbagai literatur dari dini, sekolah dasar, organisasi, sampai pada kekayaan literasi di dunia perkuliahan, dan di luar daripada itu semua.
Tidak sampai situ, semakin jauh ternyata menyadarkan bahwa saya masih membutuhkan banyak wawasan, terlebih dalam bidang linguistik seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Guna mengerti terapan, isu sosial, sampai seluk-beluk ilmu yang berlatar kebahasaan. Bagaimanapun akan saya usahakan untuk tuntas dan ahli pada bidang ini, yang sekaligus menjadi keselarasan turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai cita-cita bangsa yang fundamental dan luhur.
Saya percaya dengan keyakinan penuh bahwa, mencerdaskan kehidupan bangsa bisa dimulai dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Jika SDM bangsa terus ditingkatkan, maka cita-cita wujudnya generasi unggul Indonesia pada tahun 2045 akan semakin menjadi kenyataan. Kemudian dari pada itu, hal lain yang saya amini adalah langkah kecil bisa dimulai dengan mengurangi rendahnya minat baca di masyarakat Indonesia.
Jika menelisik data dari Indonesian National Assessment Programme (INAP) test results dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2016), maka hasilnya tidak lebih dari cukup baik. Hal itu berdasarkan tes membaca di tingkat nasional, sebanyak 46,83% serta 77,13% anak-anak kelas empat mendapatkan skor yang rendah. Sementara itu, hanya 6,06% dan 2,29% di antaranya meraih skor ‘cukup baik’. Dalam kedua tes tersebut, siswa yang berasal dari Kawasan Timur Indonesia cenderung menunjukkan hasil yang lebih rendah daripada siswa sebayanya di Kawasan Barat Indonesia, yang sekaligus mencerminkan adanya ketimpangan antar-wilayah.
Lebih jauh, krisis literasi indonesia juga menjadi masalah serius yang berlarut-larut, berdasarkan riset World's Most Literate Nations Ranked pada 2016, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Permasalahan tersebut dipicu dari minimnya sumber bacaan dan belum optimalnya budaya membaca, menjadi persoalan yang harus diurai. Belum lagi pada survei Program for International Student Assessment (PISA) 2018 yang menunjukkan bahwa, kemampuan membaca siswa Indonesia berada peringkat 10 besar terbawah dari 77 negara yang tergabung dalam Organisation form Economic Cooperation dan Development (OECD). Sementara itu juga hasil asesmen nasional 2021, disebutkan bahwa satu dari dua siswa di Indonesia belum mencapai standar minimun literasi. Tentu, ini semua menjadi rambu peringatan kepada semua pihak terkait dari hulu ke hilir untuk segera berbenah. Hal ini senada seperti yang pernah dikemukakan oleh filsuf Michel Foucault dalam teori kekuasannya bahwa, “pengetahuan dan kekuasaan mempunyai hubungan timbali balik.”
Walau memang berangkat dari pelbagai soal, masih ada optimisme bahwa sistem pendidikan akan menjadi sangat baik karena pemerintah kita telah mengupayakannya. Seperti; adanya Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang berkolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya kolaborasi dengan Kementerian Kominfo melalui adanya video pendek yang berfokus pada edukasi literasi digital. Bahkan Kemendikbud telah menjadikan hal tersebut sebagai konsep kurikulum. Selain itu, upaya menunjang literasi nasional dengan distribusi buku-buku untuk anak jenjang usia PAUD hingga SD ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Baca-tulis, numerasi, sains, finansial, digital, serta budaya dan kewarganegaraan yang menjadi aspek literasi dasar GLN yang dalam pelaksanaannya berlangsung secara serentak pada tiga ranah pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Bisa dikenal juga dengan program Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat.
Syahdan, berangkat dari program dan langkah pemerintah yang saya paparkan sebelumnya, saya merasa ada keselarasan dengan kemampuan, kompetensi, latar belakang, serta kebiasaan yang selama ini telah saya lakukan. Kendati demikian, menjadi ahli dalam hal ini semestinya saya lakukan untuk turut serta menjadi dalam bagian. Ihwal kenapa mesti linguistik, yakni agar dapat menyelami akar masalah di bidang literasi. Setelah daripada itu guna menunjang dalam penulisan dan penelitian untuk umum sebagai acuan dasar seperti yang menjadi pedoman perguruan tinggi.
Lebih spesifik saya bermaksud mengambil peran di bidang bahasa yang fokus pada literasi anak dan dewasa, dengan mewujudkan pengembangan literasi khususnya di bidang bahasa. Baik di dalam atau di luar pendidikan formal sebagai sarana literasi tambahan. Selain itu ketika menjadi linguis saya bisa membuat riset yang berkaitan dengan isu kebahasaan, secara tidak langsung dapat digunakan sebagai sumber informasi dan literasi yang bisa ditebitkan secara digital atau buku.
Hemat saya, linguis dan pendidik memiliki peran menjadikan bahasa sebagai alat dan sarana untuk menyelipkan beragam pengetahuan ke berbagai bidang. Sehingga, secara tidak langsung pengetahuan menjadi sumber literasi dalam upaya untuk meningkatkan SDM. Hal ini selaras dengan cita-cita untuk Indonesia di masa mendatang tepatnya 2045 melalui pembangunan manusia serta peningkatan pengetahuan dan teknologi. Hal ini akan mampu dicapai ketika generasi muda memiliki kemampuan literasi yang baik. Selain itu juga sejalan dengan yang dituliskan presiden Joko Widodo terkait impian Indonesia di tahun 2015-2085; SDM mengungguli bangsa lain di dunia, menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban manusia, serta masyarakat yang berbudaya dan menjunjung nilai etika.
Di sisi lain, dilansir dari informasi Badan Bahasa dan Kemendikbud di tahun 2018, ahli bahasa Indonesia baru ada 184 yang tersebar di seluruh Indonesia. Tentunya ini menjadi salah satu keinginan saya untuk turut ikut berperan menjadi ahli bahasa dan berkorelasi di bidang literasi dengan mempelajari ilmu linguistik. Sehingga tidak hanya belajar di ranah formal, tapi juga mampu menerapkan secara langsung. Sebagai bekal untuk berbagi pengetahuan dan menghadapi perubahan zaman yang dinamis.
Nasib baik terkait ketertarikan riset dan literasi telah menjadi rutinitas sejak masuk perguruan tinggi. Mulai tahun pertama hingga keempat perkuliahan sudah aktif berorganisasi di Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa. Dengan aktif di ranah kepenulisan (berita, esai, opini, puisi, dan cerpen), peliputan, investigasi, manajemen organisasi sampai ke tingkat Lembaga pers mahasiswa tingkat nasional, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).
Lebih daripada langkah tersebut, sebagai upaya lanjutan yang saya lakukan kala itu adalah mendorong sampai mewajibkan generasi setelah saya di organisasi untuk gemar membaca buku. Hal ini juga berlaku untuk ketiga adik saya dengan memberikan buku bacaan yang sesuai tingkat usia mereka. Tak jarang saya juga menjadi teman diskusi dengan teman-teman yang tertarik di ranah literasi dengan memberikan rekomendasi buku bacaan ketika mereka mencari dan bertanya sumber literasi.
Upaya lanjutan yang saat ini sedang saya lakukan sebagai wujud kontribusi serta peduli terhadap literasi dan bahasa Indonesia adalah dengan bergabung di sebuah organisasi yakni Adya Foundation. Organisasi ini bergerak di bidang literasi dan kebahasaan anak-anak di daerah terpencil dengan menyediakan buku bacaan yang sesuai dengan kurikulum pendidikan Indonesia. Saya menjadi salah satu penyusun modul pembelajaran dan editor buku bacaan bagi anak-anak yang akan diterbitkan oleh yayasan dengan kerja sama Badan Balai Bahasa Kemendikbud. Saya percaya bahwa anak-anak memiliki kemampuan besar untuk memproses pengetahuan dan usia ini adalah momen yang baik dalam membentuk karakter. Sehingga dalam proses tumbuh kembang jika diberikan ajaran, sarana belajar yang baik, kelak akan menjadi individu yang baik dan berbudaya.
Saya memiliki keinginan untuk mulai mengajarkan nilai yang baik melalui bahasa-bahasa yang terdapat di buku bacaan anak-anak. Sedangkan pada masyarakat luas impian saya kelak bisa mengembangkan kemampuan di bidang bahasa ke berbagai ranah seperti hukum dan sosial, sebagai bentuk pengabdian saya terhadap masyarakat. Dengan melanjutkan pendidikan di jenjang magister saya bisa melangkah maju dan berusaha memperoleh gelar yang didukung dengan bekal pengetahuan dan keterampilan.
Dengan memiliki bekal tersebut saya berharap kelak bisa turut mewujudkan optimalisasi bahasa Indonesia di ranah formal dan umum. Saya menyadari bahwa persoalan berbahasa Indonesia tidak bisa dikesampingkan, karena bahasa adalah identitas suatu bangsa. Jika masyarakat berbudaya dan memiliki literasi bahasa yang baik, maka akan menjadikan nilai bangsa tersebut menjadi baik pula. Tentunya ini adalah tanggung jawab bagi semua kalangan, khususnya generasi muda yang memiliki kesempatan besar dalam membangun bangsa ini.
Tekad dan motivasi saya untuk belajar lebih lanjut di bidang bahasa sebagai akar dari sebuah pengetahuan melalui studi ilmu linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saya menemukan bahwa UI adalah pilihan kampus yang sesuai untuk mengembangkan literasi dan ilmu kebahasaan. Sebab UI memiliki lingkungan akademik yang berperan di bidang literasi. Misalnya fasilitas perperpustakaan yang memberikan bimbingan, lokakarya, dan pelatihan. Selain itu, 70% koleksi perpustakaan UI berbasis digital dan remote access yang bisa diakses secara virtual. Fasilitas tersebut tidak hanya berlaku bagi dosen, mahasiswa, pustakawan, namun juga bisa untuk umum agar pengetahuan dan tingkat literasi meningkat. Di samping itu, UI memiliki layanan penunjang seperti Lembaga Bahasa Internasional (LBI), Lembaga Leksikologi dan Leksikografi, Labotarium Bahasa Isyarat yang bisa menjadi fasilitas untuk mengembangkan skill. Selain itu, ketika studi S1 penelitian saya banyak belajar tentang topik bahasa dan isu sosial. Oleh karena itu, saya berkeinginan melanjutkan penelitian ke tingkat lebih tinggi.
Dengan memahami lebih jauh teori dan kemampuan di ranah akademik maka bisa menunjang dan meningkatkan profesionalitas di bidang bahasa dan literasi. Mata kuliah yang menunjang yakni Fonologi, Morfologi, Pragmatik, Semiotik, Semantik, Psikolinguistik, Sosiolinguistik, Kajian Wacana, Bahasa dan Budaya, dan subjek lainnya dengan total 40 SKS. Di UI terdapat penjurusan ke berbagai peminatan bahasa untuk riset dan konsentrasi yang lebih terarah. Para pendidik di UI masih aktif melakukan riset dengan penelitian mutakhir di bidang linguistik, misalnya Dr Untung Yuwono, memiliki riset yang berkaitan dengan Analisis Wacana Kritis (AWK) dan Linguistik Forensik. Penelitian saya terdahulu ketika skripsi berkaitan dengan AWK, jika ditarik ke lingkup lebih sempit, subjek ini menjadi salah satu dasar yang bisa mengarah pada persoalan bahasa di ranah sosial.
Setelah menyelesaikan studi pascasarjana linguistik, hal prioritas yang akan saya lakukan adalah menjadi pendidik dan linguis. Berbekal pengetahuan semasa studi di Universitas Indonesia dan mencari pengalaman belajar lain yang relevan, saya berharap bisa memberikan kontribusi untuk pembelajaran dan pengetahuan di bidang bahasa. Misalnya, menyebarkan ilmu yang saya pelajari di bidang akademis dan non akademis. Bidang akademis, dengan menjadi tenaga pendidik, melakukan riset dan pengabdian di bidang bahasa dan literasi untuk masyarakat. Sedangkan nonakademis, berbagi informasi terkini seputar kebahasaan melalui berbagai platform sebagai upaya literasi digital.
Selain itu, saya berkeinginan untuk menjadi fasilitator pengembangan buku anak dan pendidikan nonformal di bidang literasi di Adya Foundation. Hal itu bisa saya lakukan dengan mencari sumber literasi terbaru untuk anak-anak, membuat sumber literasi yang sesuai dengan usia anak-anak bimbingan di Adya Foundation, serta memperkenalkan Adya Foundation ke lingkungan yang lebih luas agar proses pemerataan literasi bisa berjalan dengan maksimal.
Untuk mewujudkan harapan tersebut beberapa langkah dan usaha yang saya rencanakan dan laksanakan dengan bergabung dengan forum penggerak literasi nasional, belajar rumpun bahasa yang relevan di bidang lain seperti Komunitas Linguistik Forensik Indonesia (KLFI) agar bisa berbagi pengetahuan terkait linguistik forensik di Indonesia, kegiatan dengan diskusi, seminar, dan pelatihan. Mengikuti dan berusaha mengadakan kegiatan sosial yang berkaitan dengan dunia pendidikan serta bahasa sebagai upaya meningkatkan literasi bahasa masyarakat.
Adapun kontribusi yang dapat akan saya berikan kepada Bangsa Indonesia, masyarakat, serta generasi penerus bangsa adalah dengan mengimplementasikan cita-cita Bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, membagikan nilai-nilai budaya Indonesia melalui berbahasa, penelitian di bidang pendidikan dan bahasa. Sehingga bahasa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Di sisi lain, saya berkeinginan menjadi salah satu ahli bahasa yang mampu berkontribusi dalam menegakkan hukum Indonesia dengan mendalami linguistik forensik dan studi S3 di bidang linguistik.
insigh full makasih info
BalasHapus